Selasa, 14 Januari 2014

Memantau Akuisisi Kapal Perang Nakhoda Ragam Class


Rencana Indonesia membeli 3 Korvet Nakhoda Ragam Brunei Darussalam memang ngeri-ngeri sedap. Ngeri, karena semua calon pembeli akhirnya mengundurkan diri: Vietnam, Aljazair, Irak, Malaysia dan Filiphina. Sedap, karena sistem komunikasi dan senjata korvet Nakhoda Ragam bisa diintegrasikan dengan 4 korvet Sigma milik Indonesia.

Sistem senjata dan elektronik ketiga korvet Brunei lebih hebat daripada korvet Sigma Indonesia. Anti-udaranya telah menggunakan peluru kendali Seawolf. Sementara Sigma Indonesia masih menggunakan Mistral. Korvet Brunei juga dilengkapi sensor anti kapal selam (Thales Underwater Systems hull-mounted sonar), serta piranti canggih lainnya: Radamec electro-optic weapons director , Thales Sensors Cutlass countermeasures dan Scorpion radar jammer. 7 korvet modern yang bergerak dengan sistem terintegrasi, tentu akan menjadi mesin perang yang mematikan. Belum lagi jika dikombinasikan dengan fregat kelas Van Speijk. Formasi tempur kapal Indonesia akan semakin beragam.

Lalu mengapa korvet Brunei ditolak berbagai negara? Beberapa pengamat militer Internasional menduga, korvet Nakhoda Ragam memiliki cacat teknis. Korvet dikabarkan bergetar dan agak miring ketika dipacu cukup kencang. Hal ini akibat ukuran kapal yang kecil, namun diisi rudal atau sistem senjata yang besar. Getaran kapal dikhawatirkan mempengaruhi sistem stabilizer senjata, sehingga daya tembak bisa tidak akurat. Ukuran Korvet buatan BAE Systems Surface Ships Inggris ini, nyaris sama dengan Korvet Sigma Indonesia buatan Belanda. Keduanya memiliki panjang kurang-lebih 90 meter dan lebar 13 meter. Daya tampung juga sama, kurang lebih 80 kru.

Nakhoda Ragam Perbedaan mencolok adalah, Korvet/ Light Frigat Nakhoda Ragam memiliki bobot 1940 ton, sementara korvet sigma lebih ringan, yakni 1692 ton. Bobot yang lebih berat membuat kecepatan jelajah Nakhoda Ragam turun menjadi 22km/jam. Sementara korvet Sigma melaju dengan kecepatan jelajah 33km/jam, untuk jarak 6700 km. Kecepatan Korvet/Light Frigat Nakhoda Ragam yang lambat, membuat bahan bakar dan makanan yang dibutuhkan menjadi lebih banyak. Sementara kapasitas penampungan logistik terbatas. Untuk itu banyak yang berpendapat daya jelajah (kemampuan melaut mandiri) Nakhoda Ragam, termasuk pendek dibandingkan kapal sekelasnya (Ocean Patrol Vesel/ Frigate). Korvet Nakhoda Ragam yang mampu mengangkut satu helikopter, dianggap terlalu dipaksakan untuk menjadi Light Frigat. Berbeda dengan Sigma Indonesia yang memang didisain untuk kelas korvet.

Namun jika dilihat dari jenis persenjataan dan sistem elektroniknya, Light Frigate Nakhoda Ragam sangat siap untuk bertempur. 


Persenjataan yang diusung:
• 2 x 4 MBDA Exocet MM40 Block II missile launcher. • MBDA Seawolf surface-to-air missile. • 1 x Oto Melara 76mm gun. • 2 x MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns • 2 x 3 324mm torpedo tubes BAE Systems. • Thales Sensors Cutlass 242 countermeasures. Rudal Exocet MM40 Block II (tenaga roket) bisa dikonversi menjadi Block III (tenaga jet), sehingga jangkuannya mencapai 180 km, dibandingkan Block II hanya 75 km. Radar dan Alat Sensor: • Radamec 2500 electro-optic weapons director. • Thales Underwater Systems TMS 4130C1 hull-mounted sonar. • BAE Sys Insyte AWS-9 3D E & F-band air & surface radar. • BAE Insyte 1802SW I/J-band radar trackers. • Kelvin Hughes Type 1007 navigation radar. • Thales Nederland Scout radar for surface search. • 1 Helikopter sekelas S-70B Seahawk.

Nakhoda Ragam telah dilengkapi Nautis II command and weapons control. Nautis II merupakan piranti multifungsi untuk berhadapan dengan ancaman: udara, permukaan dan laut. Data/ informasi disuplai oleh berbagai sensor dan sistem senjata, untuk dimunculkan ke War-Room, seperti navigasi, target tracking, ancaman, alokasi senjata dan weapons control functions. Kemampuan kapal ini hampir sama dengan Light Frigate Lekiu Class Malaysia. Hanya saja Lekiu memiliki hanggar helikopter.

Indonesia memang ditempatkan pada situasi yang tidak memiliki banyak pilihan. Ambang batas minimum persenjataan memang harus dipenuhi. Dan TNI telah menetapkan standar Minimum Essential Force (MEF) yang harus dicapai pada tahun 2014. Sementara program korvet nasional yang dicanangkan sejak tahun 2002, belum juga terwujud hingga tahun 2012.
 

Ada gap antara kualitas KRI sekarang dengan target modernisasi yang harus dicapai. Untuk menutupi gap tersebut, TNI AL berharap bisa mengakusisi Light Frigate Nakhoda Ragam milik Brunei Darussalam. Situasi inilah yang disampaikan pihak TNI dan Kementerian Pertahanan saat rapat kerja dengan komisi I DPR. Hasilnya, Komisi I DPR akhirnya mengendurkan tekanannya dalam menolak pembelian 3 fregat buatan Inggris yang diajukan Departemen Pertahanan. “Menurut saya harganya murah sekali. Tapi pada intinya kita upayakan harganya lebih murah,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Hayono Isman.

Rencananya Light Fregat Inggris tersebut akan dibeli seharga 300 juta USD. Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengaku, DPR membentuk tim independen untuk memeriksa kelayakan 3 Light Frigate yang dibeli Brunei tahun 202 tersebut. DPR ingin memastikan harga pembelian ditambah biaya retrofit dan upgrade senjata, masih lebih murah jika dibandingkan dengan pembelian frigat baru.

Ketiga Light Frigate Nakhoda Ragam dihargai 300 juta USD, belum termasuk retrofit karena sudah 10 tahun bersandar di galangan kapal Lursen Jerman. Sementara saat membeli 4 korvet Sigma dari Belanda, Indonesia harus mengucurkan 680 juta USD. Kalaupun TNI jadi membeli 3 Nakhoda Ragam Class, harus benar-benar diperhatikan retrofit dan repoweringnya, untuk memastikan light frigate tersebut benar benar siap bertempur dalam perang modern...


Sumber: Link

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
>